Minggu, 20 April 2008

kartini oh kartini

Kartini Masa Kini vs Kartini Muslimah

Berbicara tentang perempuan, tentu kita tidak akan bosan mengikuti sepak terjangnya dalam kehidupan. Keberadaan perempuan di berbagai lini kehidupan cukup menjadi perhitungan. Mulai dari mencetak generasi unggulan, mengatur rumah tangga, hingga turut terlibat dalam dunia perpolitikan. Berbagai seminar dan kuliah umum bahkan aksi damai pun digelar untuk memuliakan sosok manusia yang bernama perempuan.
Peran domestik bukanlah sebagai satu-satunya peran. Namun, di sektor publik pun perempuan turut berperan. Bahkan di dalam salah satu riwayat hadits dijelaskan bahwa baik buruk suatu bangsa ditentukan oleh baik buruknya kaum perempuan bangsa tersebut. Jelas sudah jika kiprah perempuan dalam segala aspek tidak perlu diragukan.
Berbagai macam problematika yang khusus menimpa rakyat Indonesia dan dunia ketiga (baca:Islam) pada umumnya harus segera diselesaikan. Krisis multidimensional yang menghimpit negeri ini adalah dampak dari kedzaliman sistem yang rusak. Tidak adanya batasan yang jelas pada setiap aturan yang ditegakkan membuat setiap hukum seakan mandul. Pemberantasan korupsi yang tidak ada habis-habisnya bahkan, tanpa ada rasa malu, seorang jaksa pun bersedia menerima suap atas kasus pengemplangan sejumlah dana. Sungguh suatu ironi, Indonesia mengaku sebagai negara hukum tapi kekuatan hukum kalah dengan kekuatan ekonomi. Belum lagi, jumlah rakyat miskin dan kasus gizi buruk yang terus bertambah, tidak membuat pemerintah mengambil kebijakan-kebijakan strategis untuk menuntaskannya, tetapi malah menaikkan harga bahan pokok. Tindakan privatisasi sejumlah BUMN dengan dalih meningkatkan investasi dilakukan serta merta oleh pemerintah tanpa memikirkan akan dikemanakan ribuan pegawai yang ter-PHK. Padahal, jumlah pengangguran intelektual kian bertambah tiap tahun. Tak ayal jika kriminalitas pun marak. Akhirnya, krisis moral dan akhlak bangsa ini tidak dapat dihindari.
Perempuan sebagai anggota masyarakat mempunyai andil besar dalam memperbaiki kondisi buruk bangsa ini. Banyak upaya yang telah dilakukan, salah satu diantaranya meraih kuota 30% kursi legislatif. Benarkah peran permpuan dalam menyelesaikan problematika bangsa cukup dengan banyaknya jumlah kursi yang diduduki oleh anggota dewan perempuan atau anggota ewan lelaki yang sensitif gender?
Didalam Islam muslimah ditempatkan pada posisi yang mulia. Ia tidaklah dibedakan dengan lelaki dalam meraih kemuliaan di sisi Allah SWT. Bercermin dari apa yang telah dilakukan oleh sayyidah Khadijah ra. Sebagai seorang muslimah yang setia mendampingi Rasulullah saw dalam memperjuangkan Islam sebagai aturan kehidupan, ia juga mendidik anak-anaknya dengan baik hingga lahirlah teladan-teladan seperti Fatimah ra.
Sosok muslimah lain yang patut kita contoh adalah sayyidah Aisyah ra. Putri Khalifah Abu Bakar ra yang sekaligus istri Rasulullah saw ini cerdas dan cendikia yang mahir dalam berbagai bidang. Kepandaian sayyidah Aisyah ra dalam mendalami Al-Quran, fiqih, dan fakta ini terbukti dengan 2.210 hadits yang telah diriwayatkannya. Keterlibatannya dalam kancah politik terlihat di berbagai riwayat hadits. Sayyidah Aisyah ra tidak akan segan-segan mengingatkan khalifah yang berkuasa pada saat itu ketika melakukan kesalahan.
Lain cerita dengan RA Kartini, semangat perjuangannya dalam menentang pengebirian pendidikan untuk perempuan ini masih bisa dirasakan. Bahkan apa yang telah diperjuangkan oleh RA Kartini dijadikan sebagai salah satu dasar gerakan feminis. Sampai-sampai gerakan ini menyerukan kaum perempuan untuk keluar dari relnya. Pandangan feminis terhadap perempuan sungguh bertolak belakang dengan pandangan Islam. Feminis berpandangan bahwa rendahnya kontribusi perempuan dalam ranah publik dikarenakan posisi dan kondisi perempuan yang kurang menguntungkan. Oleh karenanya, menurut pandangan feminis, kaum perempuan harus melepaskan faktor-faktor penyebab kesenjangan antara lelaki dan perempuan. Diantaranya, budaya patriarkhi, agama, sempitnya akses kiprah perempuan dalam ranah politik, rendahnya taraf ekonomi dan pendidikan.
Kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari penjajahan brutal yang dilakukan kaum imperialis dalam melakukan eksploitasi besar-besaran terhadap potensi alam Indonesia sekaligus pembodohan terhadap bangsa Indonesia. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa proses pembodohan ini masih tetap berlangsung hingga kini walaupun dengan penjajahan gaya baru. Hal ini tergambar dalam kumpulan surat Kartini yang dikirimkan kepada Stella, sahabatnya di Belanda. Dalam suratnya, Kartini meminta pemerintah Hindia Belanda memperhatikan nasib pribumi dengan menyelenggarakan pendidikan, terutama bagi perempuan. Menurut Kartini, pembentuk budi pekerti anak ada di tangan perempuan. Oleh karenanya, perempuan yang cerdas harus cerdas untuk menjadi pendidik anak yang pertama dan utama. dan tidak bermaksud menjadikan anak-anak perempuan menjadi saingan laki-laki. Tidak ada keinginan baginya untuk menuntut adanya kesetaraan gender. Bahkan sejak menikah, RA Kartini sangat menikmati perannya sebagai istri dan ibu.
Kini, saatnya muslimah menampilkan diri sebagai sosok muslimah sejati. Ia adalah seorang hamba yang mempunyai kewajiban layaknya seorang muslim untuk menaati aturan-aturan Allah SWT. Dengan berpegang pada prinsip awlawiyat (mengutamakan aktivitas berdasarkan hukum asal perbuatan), seorang muslimah tidak perlu bingung tentang apa yang dilakukannya terlebih dahulu. Tentunya jika ia dihadapkan pada dua kewajiban, antara merawat anak yang sedang sakit atukah harus keluar rumah untuk mengisi suatu kajian, maka ia harus mendahulukan kewajibannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.
Sungguh Islam telah menempatkan manusia seadil-adilnya. Dalih kebebasan dan demokrasi bukanlah sebagai penghalang terpancarnya kemuliaan cahaya Islam. Kaum Muslim secara keseluruhan harus bahu membahu untuk mewujudkannya dengan memberikan pemahaman yang jelas di tengah-tengah masyarakat hingga tegak kembali Khilafah Islamiyah. Insya Allah.

Anggota Aliansi Penulis Pro Syariah Surabaya

Minggu, 13 April 2008

instant message from my luvly sist

Assalamu'alaikum mengenalmu adalah takdir, menjadi temanmu adl pilihan, bersahabat denganmu adalah kesempatan, dan menjadi saudara se aqidah denganmu adalah kebahagiaan, Semoga Allah tetap menyatukan hati-hati hambaNya dalam RidhoNya. Amien... Mohon maaf jika Banyak khilaf, Sm@ng@t!!!....


ktlangit

Kamis, 28 Februari 2008

andai bung tomo "mengaji"

hari ini sepuluh alpeners surabaya diundang ke museum Pahlawan untuk menghadiri launching dua buku tentang bung Tomo. Dua buku itu merupakan kumpulan surat-catatan Bung Tomo selama hidup. Buku ini sengaja dibuat agar anak cucunya mengenang perjuangan beliau.
Bung Tomo Menggugat dan Bung Tomo, Suamiku. itulah judul dua buku itu.
Dalam buku Bung Tomo menggugat, tercatat bahwa motivasi beliau berjuang tidak lain karena Allah SWT. Maka tidak heran jika dalam orasi beliau pekikan ALLAHU AKBAR saat pertempuran 10 Nopember 1945, begitu terkenal.
Subhanallah....andai bung Tomo masih hidup, mungkin bung Tomo menjadi bagian dari pejuang penegak hukum2 Allah SWT.
Beliau bisa menjadi "pejuang sejati", tentu jika beliau memahami betul tentang gambaran kehidupan ini. Mabda' Islam akan diyakininya, dijaganya, dan diembannya kepada masyarakat dunia.

(catatan kecilku, 28 februari 2008)